
PAINAN — Menjelang sore, rumah Suherman, M.A. dan Elza, S.Pd. di Kompleks SDLB Painan perlahan dipenuhi suara anak-anak melafalkan ayat suci. Mereka datang silih berganti dengan membawa Iqra dan Al-Qur’an sebagian masih duduk di bangku sekolah dasar, sementara lainnya telah menginjak jenjang SMP.
Sekitar 15 anak rutin belajar membaca Al-Qur’an di rumah pasangan suami istri tersebut. Dengan sabar, Suherman dan Elza membimbing setiap bacaan, memperbaiki pelafalan huruf, serta menanamkan kecintaan terhadap kitab suci sejak usia dini.
Keduanya merupakan penyandang disabilitas tunanetra. Namun, kondisi itu tidak membatasi pengabdian mereka. Justru dari rumah tersebut, Suherman dan Elza menunjukkan bahwa kemampuan melihat bukanlah satu-satunya jalan untuk menuntun seseorang menuju kebaikan.
Mereka mengajar dengan pendengaran yang terlatih, ingatan yang kuat, kesabaran, serta ketekunan. Setiap kesalahan bacaan didengarkan dengan saksama, kemudian diperbaiki secara perlahan agar anak-anak tidak merasa tertekan dan tetap bersemangat belajar.
Di tengah meningkatnya biaya pendidikan tambahan, Suherman dan Elza memilih tidak menetapkan tarif bagi anak-anak yang belajar di rumahnya. Bagi mereka, mengajarkan Al-Qur’an bukan sekadar kegiatan sore, melainkan bagian dari ibadah dan tanggung jawab moral kepada generasi muda.
Pengabdian itu dijalankan di sela kesibukan keduanya sebagai abdi negara. Suherman sehari-hari bertugas sebagai PPPK Paruh Waktu di Dinas Sosial Provinsi Sumatera Barat. Sementara itu, Elza merupakan guru aparatur sipil negara di SDLB Painan.
Setelah menunaikan pekerjaan masing-masing, keduanya masih menyediakan waktu, tenaga, dan perhatian untuk mendampingi anak-anak mengenal huruf hijaiyah hingga mampu membaca ayat-ayat Al-Qur’an dengan lebih baik.
Di rumah itu, anak-anak tidak hanya belajar panjang-pendek bacaan atau ketepatan makhraj. Mereka juga menemukan teladan tentang ketabahan, keikhlasan, kedisiplinan, dan arti berbagi ilmu tanpa menjadikannya semata-mata sebagai urusan materi.
Perjuangan Suherman dan Elza sekaligus mematahkan anggapan bahwa penyandang disabilitas hanya layak ditempatkan sebagai penerima bantuan. Keduanya justru hadir sebagai pendidik, pekerja, dan penggerak sosial yang memberikan manfaat nyata bagi lingkungan sekitar.
Apa yang mereka lakukan mungkin berlangsung dalam ruang sederhana dan tanpa sorotan besar. Namun, dari sanalah harapan tumbuh melalui satu huruf yang dibaca dengan benar, satu ayat yang dihafalkan, dan satu anak yang semakin dekat dengan Al-Qur’an.
Kisah pasangan ini juga menjadi pengingat bahwa inklusi tidak cukup berhenti pada rasa iba. Penyandang disabilitas membutuhkan penghormatan, kesempatan yang setara, dan dukungan agar kemampuan serta pengabdiannya dapat berkembang lebih luas.
Setiap sore, ketika suara anak-anak mengaji kembali terdengar dari rumah mereka, Suherman dan Elza sedang menyampaikan pesan yang jauh lebih besar daripada kata-kata: keterbatasan tidak pernah menutup jalan untuk berbuat baik.
Mereka mungkin tidak melihat wajah-wajah kecil yang duduk di hadapan mereka. Namun, dengan ilmu, kesabaran, dan keikhlasan, keduanya sedang membantu menerangi masa depan anak-anak tersebut.
Dari sebuah rumah di Kompleks SDLB Painan, cahaya itu terus dijaga cahaya ilmu, pengabdian, dan ayat-ayat suci yang menghidupkan harapan.
Dj/ RF biro Pesisir Selatan


Tidak ada komentar