
PESISIR SELATAN — Tantangan mendidik generasi muda di tengah derasnya arus digital tidak bisa dibebankan kepada sekolah maupun anak-anak semata. Keluarga, organisasi kepemudaan, lembaga pendidikan, dan pemerintah dituntut membangun kerja bersama agar kemajuan teknologi tidak berjalan berlawanan dengan pembentukan karakter.
Persoalan tersebut menjadi sorotan dalam kegiatan NGOPI (Ngobrol Pendidikan Islam) bertema “Perempuan Tangguh, Pemuda Hebat: Kolaborasi Membangun Generasi Berkarakter, Cerdas Digital dan Siap Menghadapi Masa Depan” yang menghadirkan Anggota DPR RI Komisi VIII dari Daerah Pemilihan Sumatera Barat I, Lisda Hendrajoni, di Hotel Saga Murni Sago, Kabupaten Pesisir Selatan, Minggu (11/10/2026).
Forum yang melibatkan perwakilan 16 organisasi kepemudaan (OKP) itu mempertemukan unsur pendidikan, pemerintah, organisasi kemasyarakatan, dan insan pers. Namun, di balik agenda diskusi tersebut, terdapat pekerjaan yang jauh lebih besar: memastikan gagasan tentang pendidikan karakter benar-benar diterjemahkan menjadi perubahan dalam keluarga dan lingkungan sosial.
Lisda menegaskan bahwa orang tua, khususnya perempuan, harus terus memperbarui pengetahuan agar mampu mendampingi anak menghadapi perubahan pola komunikasi dan akses informasi akibat perkembangan teknologi.
“Tidak harus anak-anak saja yang belajar, emak-emak juga harus belajar. Perempuan itu harus dikuatkan dalam berbagai aspek kehidupan berumah tangga, karena nantinya akan menjadi ibu, menjadi guru, dan memiliki banyak peran lainnya,” ujar Lisda.
Pernyataan tersebut menempatkan keluarga sebagai ruang pertama pembentukan karakter. Anak tidak cukup hanya menerima nasihat, tetapi juga membutuhkan keteladanan dan pendampingan yang sesuai dengan usia serta tahap perkembangannya.
Lisda mengingatkan bahwa pendekatan mendidik anak tidak dapat disamaratakan. Anak usia lima tahun, sepuluh tahun, lima belas tahun, hingga mereka yang telah berusia di atas dua puluh tahun membutuhkan cara komunikasi yang berbeda.
Di tengah penggunaan telepon pintar dan meluasnya konten digital, tantangan orang tua bukan sekadar membatasi akses anak terhadap teknologi. Mereka juga perlu memahami lingkungan digital yang membentuk cara anak berpikir, berinteraksi, dan menyerap nilai-nilai kehidupan.
Lisda mendorong perempuan dan generasi muda memanfaatkan teknologi secara produktif, mulai dari mengembangkan kreativitas hingga menghasilkan konten edukatif. Kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI), menurutnya, juga dapat digunakan untuk mencari informasi dan membantu menyelesaikan persoalan, selama diimbangi sikap bijaksana.
“Silakan membuat konten yang kreatif, tetapi tetap belajar dan jangan meninggalkan agama. Sekarang banyak konten yang tidak bermutu. Karena itu, kita harus mampu menyeimbangkan kemajuan teknologi dengan pendidikan dan nilai-nilai agama,” tuturnya.
Pesan tersebut relevan dengan kebutuhan literasi digital yang tidak berhenti pada kemampuan menggunakan perangkat. Masyarakat juga perlu membangun kemampuan memilah informasi, memahami dampak perilaku daring, serta menjaga etika dalam ruang digital.
Lisda turut menekankan perlunya kolaborasi untuk mendukung pendidikan, termasuk pengembangan madrasah. Pemerintah, lembaga pendidikan, organisasi masyarakat, dan keluarga perlu mengambil peran sesuai kapasitas masing-masing.
Kegiatan NGOPI juga membuka ruang bagi masyarakat untuk menyampaikan persoalan pendidikan Islam dan kendala akses pendidikan berbasis agama. Kepala Biro Administrasi Akademik, Kemahasiswaan, dan Kerja Sama UIN Imam Bonjol Padang, Dr. H. Masmuni Mahatma, berharap kegiatan tersebut tidak berhenti sebagai pertemuan sesaat, tetapi berkembang menjadi kerja sama berkelanjutan.
Panitia pelaksana, Dr. Jum Anidar, M.Pd., menyebut masih ada tiga titik kegiatan NGOPI yang direncanakan berlangsung di Kabupaten Pesisir Selatan. Agenda berikutnya direncanakan pada November melalui kerja sama dengan Kementerian Agama dan pelibatan organisasi kemasyarakatan lainnya.
Di sinilah ukuran keberhasilan forum tersebut akan diuji. Pertemuan lintas organisasi dapat mempertemukan gagasan, tetapi keberlanjutannya membutuhkan program konkret, pendampingan keluarga, penguatan literasi digital, serta tindak lanjut terhadap aspirasi masyarakat.
Pendidikan karakter tidak terbentuk melalui satu kegiatan. Ia tumbuh dari proses panjang yang membutuhkan konsistensi keluarga, dukungan lembaga pendidikan, keterlibatan pemuda, dan kebijakan yang menjawab kebutuhan masyarakat.
Karena itu, tantangan sesungguhnya bukan sekadar mengajak generasi muda menjadi cerdas digital, melainkan memastikan kecakapan tersebut berjalan beriringan dengan etika, tanggung jawab, dan nilai kemanusiaan.
Dj/ RF biro Pesisir Selatan


Tidak ada komentar