Banjir Terjang Limau Purut Tapan, Puluhan Warga dan Siswa Pramuka Dievakuasi, Rumah serta Warung Hanyut  

Redaksi MacanSumatra
11 Okt 2026 09:59
4 menit membaca

PESISIR SELATAN — Hujan deras yang mengguyur wilayah Tapan dan kawasan hulu sungai pada Sabtu (10/10/2026) memicu luapan Batang Tapan yang menerjang permukiman di Nagari Limau Purut, Kecamatan Ranah Ampek Hulu Tapan, Kabupaten Pesisir Selatan, Sumatera Barat. Puluhan warga dan siswa yang tengah mengikuti kegiatan perkemahan Pramuka sempat terjebak banjir, sementara sejumlah bangunan dilaporkan hanyut terseret derasnya arus.

 

Situasi darurat tersebut memicu pengerahan tim gabungan untuk mengevakuasi warga dari kawasan terdampak. Informasi awal menyebut sekitar 20 orang terjebak banjir. Namun, perkembangan pada Sabtu malam menunjukkan sekitar 50 warga dan siswa yang berada di kawasan Panadah berhasil dievakuasi dalam keadaan selamat.

 

Kepala Bidang Kedaruratan dan Logistik BPBD Kabupaten Pesisir Selatan, Hendri Agustian, memastikan proses evakuasi terhadap puluhan orang tersebut telah diselesaikan tim gabungan. Hingga laporan yang diterbitkan Sabtu malam, belum ada korban jiwa yang dilaporkan akibat kejadian itu.

 

Hujan Deras, Air Datang Mendadak

 

Banjir dilaporkan mulai menerjang kawasan tersebut sekitar pukul 17.00 WIB. Hujan deras yang mengguyur Tapan, ditambah tingginya intensitas hujan di kawasan hulu, menyebabkan debit sungai meningkat dan air meluap dengan cepat ke permukiman.

 

Penjabat Wali Nagari Limau Purut Tapan, Fatrialisman, membenarkan bahwa air datang secara mendadak sehingga warga tidak sempat bersiap menghadapi banjir.

 

Luapan sungai menggenangi kawasan Kampung Panadah Mudik. Sejumlah warga, pelajar yang mengikuti perkemahan, serta pembina Pramuka dilaporkan terjebak dan membutuhkan pertolongan.

 

Dalam kondisi tersebut, tim gabungan yang melibatkan BPBD, pemadam kebakaran, TNI, Polri, dan masyarakat bergerak melakukan evakuasi. Menurut laporan Sumbarkita, proses penyelamatan berlangsung hingga sekitar pukul 19.00 WIB, setelah Magrib.

 

Puluhan Tenda Dilaporkan Hanyut, Kerusakan Masih Didata

 

Dampak banjir tidak hanya mengancam keselamatan warga, tetapi juga merusak fasilitas dan bangunan di sekitar aliran sungai.

 

Laporan Minangkabaunews mengangkat informasi mengenai sekitar 40 tenda yang hanyut ketika kegiatan perkemahan Pramuka terdampak banjir. Angka tersebut merupakan informasi dalam laporan awal dan masih memerlukan konfirmasi lebih lanjut dari pihak penyelenggara maupun petugas di lapangan.

 

Sementara itu, laporan KlikPositif menyebut empat warung warga hanyut terseret arus. Sumbarkita melaporkan empat rumah warga juga hanyut di kawasan Kampung Penadah Mudik.

 

Perbedaan penyebutan bangunan dalam laporan tersebut perlu diperhatikan agar jumlah kerusakan tidak tercampur atau dihitung ganda. Pendataan menyeluruh dari pemerintah nagari dan BPBD menjadi penting untuk memastikan jumlah bangunan rusak, fasilitas terdampak, serta total kerugian material.

 

Evakuasi Berlanjut ke Kampung Tengah Tapan

 

Setelah mengevakuasi warga dan peserta perkemahan di Limau Purut, tim penanganan bencana juga menghadapi laporan banjir di Nagari Kampung Tengah Tapan.

 

BPBD Pesisir Selatan menyebut sedikitnya satu warga di wilayah tersebut dilaporkan terjebak banjir. Tim Reaksi Cepat BPBD bersama unsur terkait kemudian bergerak menuju lokasi untuk melakukan penanganan dan evakuasi.

 

Perkembangan ini menunjukkan bahwa dampak hujan deras tidak hanya terjadi pada satu titik. Karena itu, pemantauan kawasan aliran sungai dan permukiman yang berpotensi terdampak menjadi bagian penting dalam penanganan darurat.

 

Keselamatan Warga dan Pendataan Kerusakan Jadi Prioritas

 

Hingga laporan Sabtu malam, banjir di Limau Purut dilaporkan mulai surut. Namun, proses pendataan dampak dan kerusakan masih berlangsung.

 

Tidak adanya laporan korban jiwa dalam pembaruan awal menjadi kabar melegakan. Meski demikian, keberhasilan evakuasi tidak serta-merta mengakhiri pekerjaan penanganan bencana. Pemerintah daerah dan instansi terkait masih perlu memastikan kondisi seluruh warga terdampak, keamanan lokasi perkemahan, serta kebutuhan warga yang kehilangan tempat usaha maupun tempat tinggal.

 

Peristiwa ini juga menjadi pengingat penting bagi penyelenggara kegiatan luar ruang, terutama perkemahan di dekat sungai. Pemantauan cuaca, pengenalan risiko banjir kiriman dari kawasan hulu, jalur evakuasi, serta kesiapan komunikasi darurat perlu menjadi bagian dari prosedur keselamatan.

 

Bagi warga yang tinggal di sekitar aliran Batang Tapan, kewaspadaan tetap diperlukan ketika hujan deras berlangsung lama, sekalipun kondisi di lokasi sempat terlihat membaik.

 

Fokus berikutnya adalah memastikan seluruh warga aman, memverifikasi jumlah kerusakan, dan mempercepat penanganan bagi masyarakat yang terdampak banjir di kawasan Tapan.

Dj/ RF biro Pesisir Selatan

Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

    x
    x