Strategi Manajemen Operasional Pedagang Kaki Lima Bertahan di Tengah Kenaikan Harga

Redaksi MacanSumatra
5 Okt 2026 14:14
Ekonomi 0 30
6 menit membaca

macansumatra.Padang 05 Oktober 2026- semakin menantang, menjalankan usaha kecil bukanlah perkara sederhana. Harga kebutuhan dapat berubah, mencari penghasilan tidak selalu mudah, sementara pelanggan memiliki kemampuan dan kebutuhan yang berbeda-beda. Kondisi tersebut membuat pedagang kaki lima harus mampu mengatur kegiatan usahanya agar tetap berjalan. Bagi mereka, manajemen operasional tidak selalu hadir dalam bentuk perencanaan yang tertulis dan sistematis, tetapi terlihat dari berbagai keputusan sederhana yang dilakukan setiap hari.

​Hal tersebut tergambar dari pengalaman tiga pedagang kaki lima yang ditemui dalam wawancara, yaitu Bang Oleng, Buk Mar, dan Buk Emi. Ketiganya menjalankan usaha dengan karakteristik yang berbeda, mulai dari target pelanggan hingga cara mempertahankan pembeli.

Meskipun demikian, ketiganya sama-sama menerapkan berbagai strategi operasional untuk memastikan dagangan tetap dapat diterima oleh pelanggan dan usaha tetap berjalan.

Menentukan Target Pasar dan Lokasi Usaha

​Salah satu bagian penting dalam kegiatan operasional adalah mengetahui siapa yang menjadi target pasar.

Bang Oleng, misalnya, menjadikan anak kuliahan sebagai target utama dagangannya.

Penentuan target tersebut kemudian berkaitan dengan lokasi yang dipilih untuk berjualan. Ia memilih berjualan di tepi jalan karena tidak memiliki tempat khusus untuk berdagang.

​Pemilihan lokasi di tepi jalan menjadi salah satu keputusan operasional yang sederhana tetapi penting. Lokasi yang mudah ditemukan memungkinkan pedagang bertemu langsung dengan calon pembeli. Bagi usaha kecil yang tidak menggunakan sistem pemasaran yang rumit, keberadaan tempat berjualan dapat menjadi salah satu cara utama untuk mempertemukan produk dengan pelanggan.

​Selain lokasi, Bang Oleng juga mempertahankan usahanya dengan tetap berjualan secara konsisten. Ketika ditanya mengenai cara mempertahankan usaha agar mampu bersaing, ia menjelaskan bahwa dirinya tetap berjualan seperti biasa. Pengalaman selama sekitar sepuluh tahun membuatnya memahami pola pelanggan dan kondisi usaha yang dijalankannya.

​Hal yang berbeda terlihat pada Buk Mar. Target pelanggannya adalah orang kantoran, terutama ketika terdapat rapat atau kegiatan tertentu. Dengan demikian, kegiatan operasionalnya turut bergantung pada aktivitas pelanggan.

Ketika terdapat kegiatan atau rapat, peluang pesanan menjadi lebih besar. Sebaliknya, ketika aktivitas pelanggan berkurang, penjualan juga dapat ikut terdampak.

Harga sebagai Bagian dari Pengelolaan Usaha
​Penentuan harga juga menjadi bagian penting dalam manajemen operasional pedagang kaki lima. Harga harus disesuaikan dengan kondisi produk, pelanggan, dan keadaan usaha.

Buk Mar, yang telah cukup lama berjualan, mengaku sudah terbiasa menentukan harga dagangannya. Pengalaman menjadi salah satu pertimbangan dalam menentukan harga yang dianggap sesuai.
​Sementara itu, Buk Emi mengalami perubahan harga jual dalam beberapa tahun terakhir.

Ia menjelaskan bahwa sebelumnya harga penjualannya sekitar Rp3.000, sedangkan sekarang menjadi sekitar Rp4.000. Perubahan harga tersebut menunjukkan bahwa pedagang perlu melakukan penyesuaian dalam menjalankan kegiatan operasionalnya.

Menariknya, menurut Buk Emi, perubahan harga jual tersebut tidak memberikan dampak yang berarti terhadap penjualan. Salah satu alasannya adalah harga bahan yang digunakan tidak ikut mengalami kenaikan. Kondisi tersebut membuat penyesuaian harga jual dapat dilakukan tanpa terlalu mempengaruhi kegiatan usaha.

​Bagi pedagang kecil, keputusan menaikkan harga tentu perlu dipertimbangkan dengan hati-hati.

Harga yang terlalu tinggi dapat membuat pelanggan berpikir ulang untuk membeli, sedangkan harga yang terlalu rendah dapat membuat keuntungan semakin kecil. Karena itu, kemampuan membaca kondisi pelanggan dan biaya usaha menjadi bagian penting dalam mempertahankan operasional.

Mempertahankan Pelanggan dengan Kualitas dan Konsistensi

​Selain harga, mempertahankan pelanggan juga menjadi bagian dari strategi operasional. Bang Oleng berusaha mempertahankan hubungan dengan pelanggan melalui pelayanan dan kebiasaan berjualan secara konsisten. Sementara itu, Buk Emi lebih menekankan pada rasa sebagai salah satu cara mempertahankan pelanggan.

​Bagi Buk Emi, menjaga rasa menjadi hal yang penting karena pelanggan akan mengetahui apabila terjadi perubahan. Konsistensi rasa membuat pelanggan memiliki alasan untuk kembali membeli. Strategi tersebut terlihat sederhana, tetapi sebenarnya merupakan bagian dari pengendalian kualitas produk dalam kegiatan operasional.

​Dengan demikian, manajemen operasional tidak hanya berkaitan dengan bagaimana barang dijual, tetapi juga bagaimana kualitas produk dipertahankan. Produk yang konsisten dapat membantu membangun kebiasaan pelanggan untuk kembali membeli.

Kendala dan Kemampuan Beradaptasi

​Dalam menjalankan usaha, ketiga pedagang juga menghadapi kendala masing-masing. Buk Mar mengungkapkan bahwa penjualan saat ini terasa lebih sulit. Kondisi tersebut menunjukkan bahwa perubahan keadaan ekonomi dapat berpengaruh terhadap usaha kecil. Ketika masyarakat lebih berhati-hati dalam mengeluarkan uang, pedagang juga harus menghadapi kemungkinan berkurangnya pembelian.

​Dalam kondisi seperti itu, kemampuan beradaptasi menjadi penting. Pedagang harus memahami kapan pelanggan ramai, siapa pelanggan yang paling potensial, serta bagaimana menyesuaikan harga dan produk dengan keadaan. Tidak semua strategi harus dilakukan dengan perubahan besar. Terkadang, mempertahankan kualitas, tetap membuka usaha, dan menjaga hubungan dengan pelanggan merupakan bentuk strategi bertahan yang paling realistis bagi pedagang kaki lima.

​Buk Emi sendiri memiliki pelanggan yang cukup mengenal pola berjualannya. Hal tersebut bahkan terlihat dari sebuah percakapan ringan ketika wawancara berlangsung. Setelah Buk Emi menjawab pertanyaan terakhir, salah seorang pelanggannya tiba-tiba ikut menanggapi.

“Kalau di Padang ini orang pasti tahu aja, kalau nggak jualan dua kendalanya, sibuk atau sakit.”

 

​Mendengar perkataan tersebut, saya menjawab, “Terbaca polanya ya, Pak,” lalu kami pun tertawa.

​Percakapan singkat tersebut sebenarnya memperlihatkan sesuatu yang menarik dalam hubungan antara pedagang dan pelanggan.

Ketidakhadiran Buk Emi sudah dapat dikenali oleh pelanggan karena terdapat pola tertentu dalam kegiatan usahanya. Pelanggan mengetahui bahwa jika ia tidak berjualan, kemungkinan ada alasan tertentu, seperti sedang sibuk atau sakit.

Kedekatan semacam ini menjadi salah satu bentuk hubungan pelanggan yang terbentuk secara alami dari aktivitas usaha sehari-hari.

Dari ketiga pedagang tersebut, terlihat bahwa penerapan manajemen operasional tidak selalu membutuhkan sistem yang rumit. Pada usaha kaki lima, manajemen operasional justru tumbuh dari pengalaman dan kebiasaan dalam menghadapi situasi sehari-hari.

​Bang Oleng mengelola usahanya dengan menentukan target pelanggan dan memilih lokasi yang mudah dijangkau. Buk Mar menyesuaikan kegiatan penjualannya dengan pelanggan dari kalangan orang kantoran dan kegiatan yang mereka lakukan. Sementara itu, Buk Emi memperhatikan harga, menjaga rasa, serta mempertahankan hubungan yang dekat dengan pelanggan.

​Ketiganya menunjukkan bahwa keberlangsungan usaha tidak hanya ditentukan oleh seberapa banyak produk yang dapat dijual, tetapi juga oleh kemampuan pedagang dalam mengelola berbagai aspek usaha. Mulai dari mengenali pasar, menentukan harga, menjaga kualitas, memilih lokasi, hingga mempertahankan pelanggan, semuanya menjadi bagian dari proses operasional.

​Pada akhirnya, di balik gerobak dan dagangan sederhana terdapat berbagai keputusan yang harus dibuat setiap hari. Para pedagang kaki lima mungkin tidak menyebutnya sebagai “manajemen operasional”, tetapi praktiknya telah mereka jalankan melalui pengalaman. Mereka belajar membaca pelanggan, menyesuaikan harga, menjaga kualitas, dan menghadapi perubahan kondisi dengan cara masing-masing.

​Bertahan bagi para pedagang kaki lima bukan sekadar terus berjualan, tetapi bagaimana mengelola usaha agar tetap hidup di tengah keadaan yang terus berubah. Di sanalah terlihat bahwa manajemen operasional bukan hanya teori yang berada di dalam buku, melainkan juga sesuatu yang nyata dan dijalankan oleh para pelaku usaha kecil dalam kehidupan sehari-hari.

​Potret Tiga Pedagang Kaki Lima dalam Mengelola Usaha di Tengah Perubahan Kondisi Ekonomi

​

Sumber: M. Fadilahtul Wirda. N

Manajemen, Fakultas Ekonomi dan Bisnis, Universitas Andalas

 

 

Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

    x
    x