Cik Liman Ditemukan, Misteri 15 Km Belum Terjawab

Redaksi MacanSumatra
28 Sep 2026 11:45
Peristiwa 0 98
3 menit membaca

PESISIR SELATAN — Tiga hari setelah menghilang tanpa jejak, Narmiati alias Cik Liman (72) akhirnya ditemukan hidup pada Minggu (27/9/2026) sekitar pukul 08.25 WIB. Namun, penemuan itu belum menutup perkara. Lansia asal Kampung Lubuk Anau, Nagari Sawah Laweh Pasar Baru, Kecamatan Bayang, tersebut berada di Perbukitan Limau Manis—melintasi sungai dan berjarak lebih dari 15 kilometer dari rumahnya.

 

Jarak sejauh itu, ketiadaan saksi, serta penuturan Cik Liman yang belum dapat diverifikasi menyisakan pertanyaan mendasar: bagaimana seorang lansia dengan kondisi pendengaran dan daya ingat yang disebut telah menurun bisa mencapai kawasan hutan bekas perkampungan tersebut?

 

Kepala Bidang Kedaruratan dan Logistik BPBD Pesisir Selatan, Hendri Agustian, mengatakan lokasi itu telah lama ditinggalkan warga dan kini berubah menjadi hutan. Saat ditemukan, Cik Liman sendirian, bersandar pada sebuah pohon, dalam kondisi agak lemah. Ia mengaku tidak makan dan tidak minum selama berada di hutan.

 

Ditemukan Hidup, Teka-teki Justru Membesar

 

Upaya membawa Cik Liman pulang tidak langsung berjalan mulus. Menurut Hendri, lansia tersebut sempat menolak dan memberontak karena merasa sedang berjualan nasi. “Pengakuan beliau di sana sedang menjual nasi,” ujarnya.

 

Dalam penuturannya, Cik Liman mengaku diajak tiga orang untuk berjualan nasi ke Perbukitan Limau Manis pada Kamis (24/9/2026). Namun, ketika warga menemukannya, tak seorang pun berada di sekitar lokasi. Belum ada saksi yang membenarkan keberadaan tiga orang tersebut maupun menjelaskan perjalanan Cik Liman menuju hutan.

 

Setelah dievakuasi ke permukiman, ia dibawa ke RSUD Muhammad Zein Painan untuk pemeriksaan dan pemulihan kesehatan sebelum dipulangkan ke rumah. Langkah medis menjadi penting karena cerita korban tidak dapat serta-merta diperlakukan sebagai bukti mengenai penyebab kehilangannya.

 

Klaim Bunian Tak Bisa Menggantikan Bukti

 

Cik Liman diketahui meninggalkan rumah pada Kamis (24/9/2026) sekitar pukul 07.00 WIB. Polsek Bayang menerima laporan sekitar pukul 14.00 WIB, kemudian bergerak bersama pemerintah nagari, Bhabinkamtibmas, BPBD Pesisir Selatan, keluarga, dan warga.

 

Pada fase awal pencarian, dua versi merebak: Cik Liman pergi mencari pakis ke ladang atau dibawa “orang bunian”. Video yang beredar di Facebook bahkan memuat suara warga yang mengaku mendengar korban meminta pertolongan meski sosoknya tidak terlihat. Namun, Kapolsek Bayang Iptu Budi Saputra sejak awal menegaskan, “Penyebab Cik Liman hilang belum bisa kami pastikan.”

 

Pernyataan itu tetap menjadi pijakan paling rasional. Hendri juga menyebut kesaksian bahwa Cik Liman pergi mencari pakis tidak cukup kuat. Karena itu, dugaan tentang makhluk gaib tidak dapat dinaikkan statusnya menjadi fakta hanya karena belum tersedia penjelasan lain.

 

Alarm Perlindungan bagi Lansia

 

Kasus ini seharusnya tidak berhenti sebagai cerita ganjil dari pinggir hutan. Informasi bahwa Cik Liman mengalami penurunan daya ingat dan gangguan pendengaran justru membuka persoalan yang lebih nyata: perlindungan lansia rentan di tingkat keluarga dan nagari.

 

National Institute on Aging mencatat bahwa berkeliaran dan tersesat dapat terjadi pada orang dengan Alzheimer. Catatan tersebut bukan diagnosis terhadap Cik Liman, tetapi memperlihatkan mengapa pemeriksaan kesehatan dan pengawasan berbasis keluarga jauh lebih mendesak daripada spekulasi mistis.

 

Cik Liman telah kembali dari hutan. Akan tetapi, tanpa penelusuran rute, evaluasi medis, dan keterangan yang lebih utuh, jawaban tentang tiga hari yang hilang itu masih tertinggal di Perbukitan Limau Manis.

Dj/ RF biro Pesisir Selatan

Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

    x
    x