UNESCO Tetapkan Nagari Amping Parak sebagai Desa Percontohan Siaga Tsunami,

Redaksi MacanSumatra
17 Jul 2026 13:59
Peristiwa 0 4
3 menit membaca

PESISIR SELATAN – UNESCO mengumumkan penetapan Nagari Amping Parak sebagai desa percontohan siaga tsunami dalam webinar nasional peringatan 20 tahun Tsunami Pangandaran 2006 pada Kamis (16/7/2026).

Penetapan tersebut menunjukkan bahwa upaya masyarakat Amping Parak membangun budaya sadar bencana mendapat pengakuan dunia. Di tengah ancaman gempa megathrust di pantai barat Sumatera, nagari ini berhasil memperkuat edukasi, kolaborasi, dan kesiapsiagaan masyarakat.

UNESCO Apresiasi Kesiapsiagaan Masyarakat

Pusat Edukasi Laskar Pemuda Peduli Lingkungan (LPPL) Amping Parak menjadi lokasi pelaksanaan webinar. Kepala Pelaksana BPBD Kabupaten Pesisir Selatan Armen, AP., MM, Kepala Dinas Komunikasi dan Informatika Wendi, Camat Sutera, Wali Nagari Amping Parak, Ketua LPPL Haridman, Kelompok Siaga Bencana, serta masyarakat mengikuti kegiatan tersebut.

Perwakilan UNESCO, Engin Koncagul, menjelaskan bahwa hanya tujuh desa dan komunitas di Indonesia yang masuk program Desa Tangguh Bencana binaan UNESCO. Lima di antaranya berada di Pulau Sumatera, termasuk Nagari Amping Parak.

UNESCO memilih ketujuh desa tersebut berdasarkan kemampuan masyarakat membangun sistem kesiapsiagaan yang berkelanjutan. Penilaian juga mempertimbangkan respons cepat, kolaborasi, dan komitmen masyarakat menghadapi ancaman gempa bumi serta tsunami.

“Ketujuh desa dan komunitas ini menunjukkan respons yang cepat, kolaborasi yang kuat, serta komitmen berkelanjutan dalam membangun kesiapsiagaan masyarakat menghadapi ancaman gempa bumi dan tsunami,” ujar nya.

Ahli ITB Paparkan Ancaman Megathrust

Dr. Pepen Supendi dari Institut Teknologi Bandung (ITB) memaparkan sejarah gempa dan tsunami di Indonesia. Ia juga menjelaskan mekanisme gempa megathrust serta potensi ancamannya di pesisir barat Sumatera, termasuk Kabupaten Pesisir Selatan.

Paparan tersebut mengingatkan seluruh peserta bahwa masyarakat pesisir harus terus meningkatkan kesiapsiagaan melalui edukasi dan simulasi evakuasi.

LPPL Perkuat Edukasi Kebencanaan

Ketua LPPL Amping Parak, Haridman, menegaskan bahwa masyarakat harus menjadikan kesiapsiagaan sebagai budaya.

Ia bersama BPBD, pemerintah daerah, pemerintah nagari, dan berbagai pihak terus menggelar edukasi kebencanaan. Mereka juga rutin melaksanakan simulasi evakuasi dan memperkenalkan jalur penyelamatan kepada masyarakat.

Haridman menilai langkah tersebut penting karena Kabupaten Pesisir Selatan berada di depan zona megathrust pantai barat Sumatera dan memiliki garis pantai sekitar 243 kilometer.

BPBD Perluas Program Mitigasi

Kepala Pelaksana BPBD Kabupaten Pesisir Selatan, Armen, AP., MM, mengatakan keberhasilan Nagari Amping Parak lahir dari kerja sama pemerintah, komunitas, lembaga pendidikan, dan masyarakat.

Menurutnya, pengakuan UNESCO menjadi motivasi untuk memperluas edukasi kebencanaan ke wilayah lain yang rawan gempa dan tsunami.

“Kesiapsiagaan harus menjadi budaya masyarakat. Dengan pengetahuan yang baik, masyarakat dapat bertindak cepat sehingga risiko bencana bisa ditekan seminimal mungkin,” kata Armen.

Pengakuan UNESCO terhadap Nagari Amping Parak menjadi bukti bahwa komitmen, kolaborasi, dan pendidikan kebencanaan mampu membangun masyarakat yang tangguh. Keberhasilan tersebut diharapkan menjadi contoh bagi daerah pesisir lainnya dalam memperkuat budaya mitigasi bencana.

Sumber: Dj/Rf Biro pessel

Editor: Fajar Gajali

Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

x
x