
Puisi Jeritan Hati Rakyat karya Teuku Husaini menggambarkan penderitaan rakyat kecil akibat ketidakadilan sosial, mahalnya kebutuhan hidup, dan lemahnya penegakan hukum di negeri ini.
Di negeri yang katanya kaya,
rakyat kecil justru menahan luka.
Penggusur menggusur sawah dan perambah menjarah hutan,
Orang yang berbicara benar justru menerima kemarahan.
Pejabat datang dengan janji manis,
senyumnya lebar, pidatonya puitis.
Namun selesai pesta dan sorak suara,
rakyat kembali memikul derita.
Harga naik setiap hari,
sementara gaji tak sanggup berlari.
Ibu menangis di dapur sunyi,
beras mahal, minyak pun pergi.
Anak-anak ingin sekolah tinggi,
tetapi biaya bagai tebing berduri.
Orang miskin dipaksa mengalah,
sementara koruptor hidup mewah.
Hukum tajam ke bawah saja,
ke atas tumpul tak berdaya.
Masyarakat mengarak pencuri ayam dengan hina.
maling uang rakyat duduk tertawa.
Jeritan rakyat mengguncang malam,
namun sering hilang tenggelam.
Didengar angin, didengar hujan,
tapi tak sampai ke ruang kekuasaan.
Wahai penguasa, dengarlah suara,
jangan rakyat hanya jadi angka.
Karena bila kesabaran habis terbakar,
amarah kecil bisa jadi petir besar.
Rakyat tak minta istana emas,
cukup keadilan yang benar dan tegas.
Sebab negeri akan tetap berdiri,
Rakyat tidak lagi menerima luka dan penderitaan.
Melalui puisi Jeritan Hati Rakyat, Teuku Husaini menyuarakan kondisi masyarakat kecil yang semakin terhimpit ekonomi. Kenaikan harga kebutuhan pokok memberatkan masyarakat, biaya pendidikan membatasi banyak orang, sementara penegak hukum masih menunjukkan ketidakadilan di tengah masyarakat.
Puisi ini juga mengkritik para pejabat yang hanya hadir dengan janji politik, namun kurang menghadirkan solusi nyata bagi rakyat.
Karya ini menjadi pengingat bahwa rakyat tidak menuntut kemewahan, melainkan keadilan, kesejahteraan, dan kepedulian dari para pemimpin negeri.
Editor : Amelia Suryani C.ILJ


Tidak ada komentar