Bangkitlah Wahai Negeriku

Redaksi MacanSumatra
19 Des 2025 07:47
Editors Pick 0 194
2 menit membaca
Bakitlah Indonesia sudah terlalu lama kau terhanyut dalam lamunan sehingga diperdaya oleh asing

Oleh: Amelia Suryani

Oleh: Amelia Suryani

Bencana yang terjadi hari ini bukanlah cerita yang muncul tiba-tiba. Ia adalah rangkaian panjang dari keserakahan yang dibiarkan tumbuh subur. Ketika para penguasa selalu merasa haus dan lapar, bumi pertiwi dijadikan ladang pengerukan tanpa batas, tanpa peduli apa yang akan terjadi di kemudian hari.

Keindahan negeri ini sesungguhnya telah lama memikat mata. Perbukitan yang hijau, pepohonan yang rimbun, udara yang sejuk, serta suara burung yang terbang bebas seharusnya menjadi sumber ketenangan dan kehidupan. Namun semua itu perlahan hilang, bukan karena alam enggan memberi, melainkan karena manusia tak pernah puas menerima.

Tuntutan gaya hidup telah membuat banyak pihak memilih menutup mata. Pohon-pohon yang selama ini memberi oksigen, memungkinkan manusia bernapas dengan bebas, ditebang demi memenuhi hawa nafsu untuk menguasai dunia. Nafsu itulah yang akhirnya mengalahkan nurani.

Jangan lagi bungkam teriakan lah kebenaran dan lihatlah rakyat yg menjerit meminta keadilan

Karya Amelia Suryani

Ironisnya, ketika alam mulai menunjukkan akibat dari perbuatan manusia, mereka yang tidak bersalah justru menjadi korban. Rakyat kecil menanggung derita, sementara mereka yang mengetahui kebenaran sering kali dipaksa bungkam. Mulut ditutup, suara dihilangkan, dan fakta disembunyikan demi melindungi kepentingan segelintir orang.

Di sinilah jeritan itu kembali terdengar: bangkitlah wahai negeriku. Kuatkan tekadmu. Jangan biarkan kebohongan terus ditutup-tutupi demi memenuhi hasrat memiliki segalanya, sementara banyak nyawa tak bersalah dikorbankan.

Cepat atau lambat, semua mata akan tertuju pada kebenaran. Alam tidak pernah lupa, dan sejarah selalu mencatat. Pertanyaannya kini, apakah kita akan terus diam, atau mulai bersuara sebelum semuanya benar-benar terlambat?

Karya tulis : Amelia Suryani

Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

x
x