
BATANG KAPAS — Kemenangan Club Voli Bintang Timur Kampung Baru Nagari Tuik dalam final turnamen bola voli antar-nagari se-Kecamatan Batang Kapas, Sabtu (12/9/2026), tak berhenti sebagai pesta olahraga. Di tepi lapangan hadir Calon Wali Nagari Tuik IV Koto Mudiek, Apwan, bersama keponakannya, Fauzi.
Kehadiran keduanya menghadirkan potret kedekatan tokoh nagari dengan pemuda—sekaligus memunculkan ujian yang lebih besar: apakah dukungan tersebut akan tumbuh menjadi pembinaan yang terarah dan berkelanjutan?
Bintang Timur menundukkan Club Voli Poster Nagari Taratak Tampatieh yang bermain sebagai tuan rumah. Kemenangan itu membawa nama Kampung Baru dan Nagari Tuik ke panggung Kecamatan Batang Kapas. Namun, di balik gelar juara, tersimpan pesan yang lebih panjang daripada usia sebuah turnamen: potensi pemuda memerlukan ruang, pendampingan, dan keberpihakan yang tidak padam setelah sorak final berakhir.
Apwan mengikuti pertandingan sejak awal serta mendampingi pemain Bintang Timur. Ia hadir bukan melalui pesan dari kejauhan, melainkan berada bersama pemain dan masyarakat di lokasi final.
Dukungan itu tentu tidak dapat dianggap sebagai penentu kemenangan—hasil tetap lahir dari perjuangan tim di lapangan—tetapi memperlihatkan pentingnya kehadiran figur publik ketika pemuda nagari membawa nama kampungnya.
Dalam pandangannya, olahraga bukan semata-mata perkara menang dan kalah, melainkan ruang untuk menjaga marwah Nagari Tuik IV Koto Mudiek. Ia meyakini prestasi akan tumbuh apabila pemuda diberikan ruang, pendampingan, dan perhatian.
Selepas pertandingan, suasana berpindah dari arena menuju sebuah warung. Apwan mengajak seluruh pemain dan ofisial minum bersama atau “puding bersama” dalam istilah setempat. Ia juga memberikan bantuan transportasi kepada para pemain. Tidak disebutkan nilai bantuan tersebut, tetapi gestur itu menjadi bentuk apresiasi langsung setelah Bintang Timur menaklukkan tuan rumah.
Di samping Apwan tampak Fauzi, tokoh muda asal Tuik yang kini berdomisili dan beraktivitas di Painan. Ia meluangkan waktu menempuh perjalanan dari Painan menuju kampung halaman untuk mendampingi para pemain.
Saat dikonfirmasi melalui WhatsApp, Fauzi mengatakan kehadirannya semata-mata didorong oleh kepedulian dan kecintaan kepada adik-adik serta kampung halaman.
Keduanya terikat hubungan keluarga. Apwan merupakan paman kandung Fauzi, yakni adik dari ayah Fauzi. Seusai laga, mereka bercengkerama dan bersenda gurau bersama pemain, ofisial, serta masyarakat.
Keakraban di warung itu memperlihatkan perjumpaan dua generasi: Apwan sebagai calon pemimpin nagari dan Fauzi sebagai representasi anak muda yang tetap menjaga hubungan dengan kampung meski beraktivitas di Painan.
Sejumlah warga yang hadir mengapresiasi cara Apwan duduk dan berbincang langsung dengan pemuda. Mereka menilainya sebagai sikap merakyat, sederhana, dan tulus. Meski demikian, apresiasi spontan di lokasi pertandingan tidak serta-merta dapat disamakan dengan ukuran dukungan politik yang terverifikasi.
Status Apwan sebagai calon wali nagari membuat setiap gesturnya berada dalam ruang penilaian publik. Karena itu, tantangannya bukan sekadar hadir pada malam kemenangan, melainkan mengubah kepedulian menjadi agenda pembinaan yang dapat diukur: jadwal latihan, akses sarana, dukungan kompetisi, serta pendanaan yang transparan dan merata bagi pemuda.
Kerangka tersebut sejalan dengan Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2022 tentang Keolahragaan, yang menempatkan pendanaan olahraga sebagai tanggung jawab bersama pemerintah pusat, pemerintah daerah, badan usaha, dan masyarakat. Dalam konteks nagari, semangat kolektif itu menuntut kolaborasi, bukan ketergantungan pada bantuan personal semata.
Gelar Bintang Timur patut dirayakan. Namun, ukuran kepemimpinan tidak berhenti pada siapa yang terlihat ketika piala diangkat. Ukurannya justru hadir setelah keramaian bubar: siapa yang memastikan pemain tetap berlatih, kompetisi terus hidup, dan talenta muda memperoleh jalan untuk berkembang.
Di sanalah dukungan Apwan dan Fauzi akan menemukan makna yang sesungguhnya.
Dj/RF biro Pesisir Selatan


Tidak ada komentar