Badai Robohkan Rumah Lansia di Sutera, Pemulihan Pascabencana Jadi Pekerjaan Berikutnya

Redaksi MacanSumatra
8 Agu 2026 13:24
Peristiwa 0 17
4 menit membaca

PESISIR SELATAN — Cuaca ekstrem kembali memperlihatkan kerentanan permukiman warga di Kabupaten Pesisir Selatan. Di Kecamatan Sutera, sebuah rumah kayu milik seorang warga lanjut usia tak mampu bertahan ketika angin kencang menerjang. Bangunan itu roboh, memaksa satu keluarga kehilangan tempat tinggal dan bergantung sementara pada bantuan orang-orang di sekitarnya.

 

Peristiwa tersebut menimpa Renodiwati, 60 tahun, warga Kampung Ampalu, Nagari Gantiang Mudiak Selatan Surantih. Rumah yang ditempatinya bersama anak, menantu, dan tiga cucunya kini tinggal reruntuhan.

 

Tak ada korban jiwa. Namun, kerusakan rumah diperkirakan menimbulkan kerugian sekitar Rp50 juta. Persoalan yang tersisa setelah badai berlalu bukan lagi sekadar puing bangunan, melainkan bagaimana keluarga tersebut dapat kembali memperoleh tempat tinggal yang aman dan layak.

 

Pemerintah Kecamatan Sutera mulai mengupayakan penanganan pascabencana. Camat Sutera Iwal mengatakan tingkat kerusakan rumah akan diinventarisasi sebagai dasar koordinasi dengan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) dan Dinas Sosial Kabupaten Pesisir Selatan.

 

Langkah itu diarahkan pada pemenuhan kebutuhan darurat sekaligus membuka kemungkinan rekonstruksi rumah Renodiwati.

 

“Pemerintah kecamatan akan memfasilitasi dan mengantarkan proposal bantuan rekonstruksi ke berbagai pihak terkait agar keluarga Renodiwati bisa segera memiliki tempat tinggal yang layak kembali,” ujar Iwal.

 

Upaya tersebut menjadi penting karena sejak rumahnya roboh, Renodiwati dan keluarganya belum memiliki hunian sendiri. Mereka untuk sementara menumpang di rumah tetangga.

 

Iwal bersama Kapolsek Sutera Iptu Manatap Manik mendatangi lokasi pada Jumat pagi, 7 Agustus 2026. Keduanya melihat langsung kondisi bangunan sekaligus memetakan kebutuhan keluarga yang terdampak.

 

Pada tahap awal, pemerintah kecamatan dan kepolisian menyerahkan bantuan sembako. Bantuan itu ditujukan untuk menopang kebutuhan sehari-hari keluarga korban selama proses penanganan rumah belum selesai.

 

Musibah yang membuat keluarga tersebut kehilangan tempat tinggal bermula tiga hari sebelumnya.

 

Selasa sore, 4 Agustus 2026, sekitar pukul 16.00 WIB, angin kencang disertai badai menghantam kawasan tempat Renodiwati tinggal. Rumah kayu yang menjadi tempat berlindung keluarga itu mulai bergoyang.

 

Suara atap dan dinding yang berderik menjadi peringatan bagi Renodiwati. Di tengah situasi tersebut, ia memilih segera membawa keluarganya meninggalkan rumah.

 

“Angin saat itu sangat kencang dan gemuruhnya menakutkan. Saat mendengar suara atap dan dinding kayu mulai berderik hendak roboh, saya langsung berteriak menyuruh anak, menantu, dan cucu-cucu berlari keluar rumah menuju rumah tetangga. Tidak ada lagi yang dipikirkan selain keselamatan nyawa kami,” kata Renodiwati.

 

Keputusan keluar dari rumah itu menyelamatkan enam anggota keluarga. Tak lama setelah mereka mencari perlindungan di rumah tetangga, bangunan yang selama ini mereka tempati mengalami kerusakan berat hingga roboh.

 

Kini kebutuhan paling mendesak bagi Renodiwati bukan hanya bantuan untuk bertahan dalam beberapa hari setelah bencana. Ia berharap rumahnya dapat kembali dibangun sehingga keluarganya tidak terlalu lama bergantung pada tempat tinggal sementara.

 

“Saya sangat berterima kasih atas kedatangan Bapak Camat, Bapak Kapolsek, dan warga yang sudah peduli. Harapan saya tidak banyak, hanya ingin rumah kami bisa dibangun kembali agar cucu-cucu bisa tidur dengan tenang dan punya tempat berteduh lagi,” tuturnya.

 

Namun pemulihan keluarga korban tidak sepenuhnya diletakkan pada bantuan pemerintah. Pemerintah Kecamatan Sutera juga mendorong keterlibatan pemerintah nagari dan masyarakat melalui gotong royong.

 

Menurut Iwal, dukungan bagi korban bencana tidak selalu harus berupa uang atau barang. Tenaga untuk membersihkan reruntuhan, membantu kebutuhan keluarga sehari-hari, maupun dukungan moral dinilai dapat mempercepat proses pemulihan.

 

Kasus robohnya rumah Renodiwati sekaligus menjadi pengingat terhadap risiko yang muncul ketika cuaca berubah ekstrem. Hujan deras dan angin kencang bukan hanya berpotensi mengganggu aktivitas masyarakat, tetapi dapat memicu pohon tumbang, merusak bangunan, dan menimbulkan bencana lain.

 

Karena itu, pemerintah kecamatan meminta warga tidak mengendurkan kewaspadaan meski badai yang merobohkan rumah tersebut telah berlalu.

 

“Mengingat cuaca ekstrem berupa hujan deras disertai angin kencang masih berpotensi terjadi, kami mengingatkan seluruh masyarakat Kecamatan Sutera agar tetap meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi bencana alam di lingkungan masing-masing,” kata Iwal.

 

Dj/ RF biro Pesisir Selatan

Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

x
x