Apwan: Taji yang Diasah di Rantau, Dibawa Pulang untuk Kampung Halaman

Redaksi MacanSumatra
27 Agu 2026 08:07
Daerah 0 1
5 menit membaca

Dari darah pengabdian sang ayah, kerasnya kehidupan di rantau, hingga ikhtiar mengetuk pintu-pintu pemerintahan, Apwan membawa satu keyakinan ketika pulang ke kampung halaman: “Hidup yang tidak diperjuangkan, tidak akan dimenangkan.” Kini, Kepala Kampung Koto Gunung itu bersiap melangkah ke kontestasi Pilwana Nagari Tuik, IV Koto Mudiak.

 

PESISIR SELATAN — Ketika banjir datang atau musibah menimpa warga, bagi Apwan, pemimpin kampung semestinya tidak hanya hadir melalui kabar dan instruksi. Ia harus terlihat di tengah masyarakat—menyaksikan persoalan dari dekat, ikut mencari jalan keluar, dan bila diperlukan turun bersama warga mengerjakan apa yang bisa dikerjakan.

 

Begitu pula ketika jalan atau fasilitas kampung membutuhkan perhatian. Apwan memilih tidak sekadar menunggu. Ia bergerak mencari pintu yang bisa diketuk, membangun komunikasi dengan Pemerintah daerah hingga Anggota Dewan di Legislatif, dan membawa kebutuhan masyarakat keluar dari batas-batas kampung.

 

Cara itulah yang perlahan membentuk sosok Apwan di tengah masyarakat Koto Gunung. Selepas bertahun-tahun ditempa kehidupan di rantau, ia pulang membawa pengalaman, jaringan, serta keberanian untuk mengabdikan kemampuan yang dimilikinya bagi tanah kelahiran.

 

Kini, Kepala Kampung Koto Gunung tersebut bersiap memasuki babak baru. Apwan akan mengikuti kontestasi Pemilihan Wali Nagari (Pilwana) di Nagari Tuik, IV Koto Mudiak, Kecamatan Batang Kapas, Kabupaten Pesisir Selatan.

 

Ia membawa tagline yang dirangkai dari namanya sendiri: APWAN — Amanah, Pemberani, Wibawa, Aman, Nasionalis.

 

Namun, perjalanan menuju titik itu tidak dibangun dalam semalam.

 

Darah Pengabdian dari Koto Gunung

 

Apwan lahir di Koto Gunung. Jejak pelayanan kepada masyarakat sudah dikenalnya sejak lingkungan keluarga.

 

Mendiang ayahnya pernah menjadi juru tulis atau sekretaris yang juga merangkap sebagai kepala desa. Dari sanalah Apwan tumbuh dengan ingatan tentang bagaimana urusan masyarakat masuk hingga ke ruang keluarga—tentang tanggung jawab, kepercayaan, dan konsekuensi menjadi tempat warga menggantungkan harapan.

 

Darah pengabdian itu seperti menemukan jalannya sendiri.

 

Perjalanan hidup kemudian membawa Apwan jauh dari kampung halaman. Ia tumbuh dan ditempa bersama mendiang kakaknya di Kota Ombilin, Sawahlunto.

 

Rantau menjadi sekolah kehidupan yang berbeda. Di sana, Apwan belajar bahwa untuk bertahan, seseorang tak cukup hanya mempunyai keinginan. Dibutuhkan keberanian mengambil keputusan, kemampuan membaca peluang, membangun kepercayaan, serta menjaga hubungan dengan banyak orang.

 

Ia kemudian mendirikan perusahaan dan belajar berdiri dengan kemampuannya sendiri.

 

Dunia usaha mengasah kemampuannya membaca peluang, berinovasi, berkomunikasi, membangun jaringan dan menyelesaikan persoalan. Pengalaman tersebut kelak menjadi modal penting ketika ia kembali berhadapan dengan persoalan masyarakat di kampung.

 

“Taji Nan Ta Asah di Rantau, di Baok Pulang”

 

Ada ungkapan Minangkabau yang terasa dekat dengan perjalanan Apwan: “Taji nan ta asah di rantau, di baok pulang.”

 

Taji yang telah diasah di rantau, dibawa pulang.

 

Setelah lama berada di luar kampung, Apwan memilih kembali. Bukan sekadar pulang secara geografis, tetapi mencoba mengubah pengalaman rantau menjadi energi untuk kampung halaman.

 

Sebagai Kepala Kampung Koto Gunung, ia membangun pola kerja yang aktif. Ketika ada kebutuhan pembangunan, ia berusaha menjemput peluang.

 

Istilah sederhananya: “mengejar bola.”

 

Apwan membangun komunikasi dengan dinas-dinas pemerintahan dan menjalin relasi dengan anggota legislatif. Ia membawa kebutuhan kampung ke meja yang memiliki kewenangan dan anggaran.

 

Ikhtiar itu membuahkan hasil. Sejumlah bantuan dan perbaikan disebut berhasil masuk ke kampung melalui komunikasi dan pendekatan yang terus dibangun.

 

Bagi Apwan, pembangunan memang tidak cukup hanya ditunggu.

 

Ia harus diperjuangkan.

 

Hadir Ketika Warga Membutuhkan

 

Tetapi kepemimpinan di kampung bukan semata tentang proyek dan pembangunan fisik.

 

Ada sisi lain yang justru lebih dekat dengan kehidupan sehari-hari: hadir ketika masyarakat sedang berada dalam kesulitan.

 

Dalam berbagai peristiwa, termasuk ketika banjir dan musibah menerpa warga, Apwan berusaha turun langsung. Di tengah masyarakat, ia juga aktif menggerakkan gotong royong—tradisi yang menjadi salah satu kekuatan kehidupan nagari.

 

Di titik inilah relasi antara pemimpin dan masyarakat diuji.

 

Sebab bagi masyarakat kampung, seorang pemimpin tidak hanya dinilai dari seberapa banyak ia berbicara tentang pembangunan, tetapi juga seberapa mudah ia ditemui ketika persoalan datang.

 

Karakter hangat dan kemampuan berkomunikasi yang ditempa selama bertahun-tahun di dunia usaha menjadi modal Apwan membangun hubungan dengan berbagai lapisan masyarakat. Ia terbiasa bergerak dari percakapan sederhana bersama warga hingga komunikasi dengan birokrasi dan lembaga legislatif.

 

Dua dunia itu—masyarakat dan pemerintahan—coba ia jembatani.

 

Dari Kepala Kampung Menuju Pilwana

 

Kini ruang pengabdian yang hendak dituju Apwan semakin besar.

 

Keputusannya mengikuti Pilwana Nagari Tuik, IV Koto Mudiak, menjadi kelanjutan dari perjalanan panjang: anak Koto Gunung yang mengenal pengabdian dari sang ayah, ditempa kehidupan di Sawahlunto, membangun usaha, lalu kembali ke kampung halaman.

 

Tagline Amanah, Pemberani, Wibawa, Aman, Nasionalis ingin ia letakkan bukan sekadar sebagai kepanjangan dari nama APWAN, melainkan nilai yang hendak dibawa dalam kepemimpinan.

 

Amanah berarti menjaga kepercayaan. Pemberani berarti tidak menghindari persoalan. Wibawa berarti mampu memimpin dengan keteladanan. Aman menjadi cita-cita menghadirkan ketenteraman masyarakat. Sedangkan Nasionalis menempatkan kepentingan bersama di atas kepentingan pribadi maupun kelompok.

 

Pada akhirnya, kontestasi Pilwana tetap akan menjadi ruang bagi masyarakat untuk menilai rekam jejak, gagasan, dan kapasitas setiap calon secara terbuka.

 

Apwan memilih datang membawa perjalanan hidupnya sebagai bagian dari tawaran itu.

 

Dari seorang anak kepala kampung, perantau, pengusaha, hingga kembali menjadi Kepala Kampung Koto Gunung, garis perjalanan tersebut bertemu pada satu keyakinan yang selama ini ia pegang:

 

“Hidup yang tidak diperjuangkan, tidak akan dimenangkan.”

 

Dan bagi Apwan, perjuangan berikutnya kini berada di tanah tempat semuanya bermula—kampung halaman sendiri.

 

Dj/RF biro Pesisir Selatan

Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

x
x