PMR Wira SMKN 1 Painan, Menyiapkan Relawan dari Sekolah

Redaksi MacanSumatra
13 Sep 2026 23:41
3 menit membaca

PAINAN — Di tengah tuntutan sekolah vokasi mencetak lulusan yang siap memasuki dunia kerja, SMKN 1 Painan memilih memperkuat satu kemampuan lain yang tak kalah penting: kesiapan siswanya menghadapi keadaan darurat dan kepekaan untuk menolong sesama.

Pelatihan Palang Merah Remaja (PMR) Wira yang digelar pada 11–13 September 2026 di Gedung Pertemuan SMKN 1 Painan, Kabupaten Pesisir Selatan, menjadi bagian dari ikhtiar tersebut. Bukan sekadar agenda ekstrakurikuler, kegiatan tiga hari itu diarahkan menjadi ruang pembentukan karakter, keterampilan pertolongan pertama, hingga kesiapsiagaan menghadapi bencana.

Pelatihan diikuti anggota PMR Wira SMKN 1 Painan dengan melibatkan unsur sekolah dan PMI Kabupaten Pesisir Selatan. Hadir Kepala SMKN 1 Painan Almes Gangga, S.Pd., M.Pd.T., Wakil Kepala Sekolah Bidang Kesiswaan Andala, Pembina PMR Beni Astrio, Pengurus PMI Kabupaten Pesisir Selatan Lahardi Piterson, ST, Elpinas, S.Kom., serta Fasilitator PMR Andrian Novialdi.

Sekolah Tak Cukup Hanya Mengajarkan Keahlian

Di balik pelatihan tersebut terdapat pesan yang lebih besar: pendidikan tidak berhenti pada nilai akademik dan kompetensi kejuruan. Kemampuan merespons keadaan darurat, disiplin, empati, dan keberanian mengambil peran ketika masyarakat membutuhkan juga menjadi modal sosial bagi generasi muda.

Pembina PMR SMKN 1 Painan, Beni Astrio, mengatakan organisasi tersebut telah memasuki angkatan kelima.

“PMR SMKN 1 Painan saat ini sudah memasuki angkatan ke-5. Artinya, sudah ada lima generasi yang ikut memperjuangkan nilai-nilai kemanusiaan di Pesisir Selatan,” ujar Beni.

Menurutnya, kebutuhan membangun kesiapsiagaan semakin relevan karena Pesisir Selatan memiliki potensi bencana. Karena itu, pelajar tidak semestinya hanya ditempatkan sebagai kelompok yang harus dilindungi ketika situasi darurat datang. Mereka juga perlu dibekali pengetahuan dan keterampilan yang memungkinkan mereka bertindak secara tepat.

Arah tersebut beririsan dengan kebijakan nasional Satuan Pendidikan Aman Bencana (SPAB). Program yang diatur melalui Permendikbud Nomor 33 Tahun 2019 itu antara lain bertujuan meningkatkan kemampuan sumber daya satuan pendidikan dalam mengurangi risiko bencana sekaligus memberikan perlindungan dan keselamatan kepada peserta didik, pendidik, dan tenaga kependidikan.

Dari Ekstrakurikuler Menuju Kekuatan Sosial

Pengurus PMI Kabupaten Pesisir Selatan, Lahardi Piterson, ST, menaruh harapan agar pelatihan tidak berhenti pada penguasaan materi.

“Semoga melalui pelatihan ini lahir relawan muda yang memiliki jiwa kemanusiaan yang tangguh, peduli terhadap sesama dan siap membantu masyarakat ketika dibutuhkan,” harap Lahardi.

Sementara Wakil Kepala SMKN 1 Painan Bidang Kesiswaan, Andala, memandang kegiatan ekstrakurikuler sebagai bagian penting pembentukan karakter dan kedisiplinan peserta didik di luar ruang kelas.

Kepala SMKN 1 Painan, Almes Gangga, S.Pd., M.Pd.T., bahkan menegaskan dukungan sekolah terhadap aktivitas siswa yang memiliki dampak positif.

“Semua kegiatan ekstrakurikuler akan kita fasilitasi sepanjang memberikan dampak positif bagi anak-anak dan sekolah. Ekstrakurikuler merupakan bagian dari proses pembentukan karakter anak, baik secara individu maupun dalam berorganisasi,” ungkap Almes.

Tantangannya: Jangan Berhenti Setelah Pelatihan

Justru di titik inilah pekerjaan sesungguhnya dimulai. Pelatihan tiga hari akan kehilangan daya guna apabila keterampilan yang diperoleh tidak dipelihara melalui latihan berkelanjutan, simulasi, kaderisasi, dan keterlibatan siswa dalam agenda kemanusiaan.

Almes juga mengungkapkan sekolah terus membangun komunikasi dengan anggota DPRD Provinsi Sumatera Barat guna memperoleh dukungan melalui pokok-pokok pikiran (Pokir) untuk kebutuhan sekolah.

“Kita terus membangun komunikasi dengan anggota DPRD Provinsi Sumatera Barat untuk mendapatkan dukungan dan bantuan bagi sekolah. Insyaallah, mudah-mudahan pada tahun 2027 nanti upaya ini dapat membuahkan hasil dan semakin menunjang proses belajar anak-anak,” ujarnya.

Pelatihan PMR Wira akhirnya membawa pesan yang melampaui gerbang sekolah: kesiapsiagaan tidak lahir ketika bencana sudah datang. Ia harus ditanam jauh sebelumnya melalui pengetahuan, latihan, disiplin, dan keberanian untuk peduli.

Dan sekolah adalah salah satu tempat terbaik untuk memulainya.

Dj/ RF biro Pesisir Selatan

Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

    x
    x