Jembatan Inunang Rp3,55 Miliar, Janji Kini Diuji

Redaksi MacanSumatra
3 Sep 2026 13:49
3 menit membaca

PESISIR SELATAN — Bagi warga Kampung Inunang, pembangunan Jembatan Gantung bukan sekadar menghadirkan kembali konstruksi sepanjang 100 meter di atas sungai. Proyek senilai Rp3,55 miliar itu menyangkut sesuatu yang lebih mendasar: memulihkan akses kehidupan yang terputus, sekaligus menguji apakah pemerintah mampu menuntaskan pembangunan dengan kualitas yang sebanding dengan besarnya harapan masyarakat.

Bupati Pesisir Selatan Hendrajoni menandai dimulainya pembangunan Jembatan Gantung Kampung Inunang melalui peletakan batu pertama di Nagari IV Koto Hilir, Kecamatan Batang Kapas, Selasa, 1 September 2026.

Proyek ini datang setelah warga menghadapi persoalan akses yang panjang. Jembatan tersebut mengalami kerusakan sejak 2024, kemudian hanyut diterjang banjir bandang pada 27 November 2025. Putusnya penghubung itu memaksa warga yang hendak menuju pasar maupun membawa hasil pertanian mengambil jalur memutar lebih dari 5 kilometer.

Data Pemerintah Kabupaten Pesisir Selatan memperlihatkan bencana ketika itu memang meninggalkan kerusakan infrastruktur yang luas. Sedikitnya 10 jembatan dilaporkan putus atau rusak, termasuk Jembatan Gantung Inunang.

Dari Lima Kilometer Menjadi Satu Kilometer

Pembangunan kembali jembatan membawa harapan konkret bagi masyarakat. Jika proyek rampung, perjalanan warga yang sebelumnya harus memutar lebih dari 5 kilometer dapat dipangkas menjadi sekitar 1 kilometer.

Bundo Kanduang Nagari IV Koto Hilir, mewakili masyarakat Inunang, menyebut dimulainya pembangunan tersebut sebagai realisasi komitmen Hendrajoni kepada masyarakat.

“Bupati Hendrajoni dahulu pernah berjanji kepada kami masyarakat Inunang untuk memprioritaskan perbaikan dan pembangunan kembali jembatan ini. Hari ini beliau membuktikan dan menuntaskan janji politiknya tersebut. Kami sangat berterima kasih karena keberadaan jembatan ini betul-betul menjadi penolong bagi warga,” ujarnya.

Jembatan itu dirancang khusus bagi pejalan kaki dengan bentang mencapai 100 meter. Fungsinya tidak berhenti sebagai penyeberangan sungai. Infrastruktur tersebut menjadi mata rantai mobilitas menuju pasar, kebun, fasilitas pendidikan, kesehatan hingga aktivitas sosial masyarakat.

“Pemkab Pessel memahami bahwa infrastruktur merupakan urat nadi pembangunan. Keberadaan jembatan yang layak bukan hanya menjadi sarana penghubung antarwilayah, tetapi juga penunjang aktivitas masyarakat dalam bidang pertanian, pendidikan, kesehatan, serta kegiatan sosial ekonomi lainnya,” kata Hendrajoni.

Anggaran Besar, Pengawasan Tak Boleh Longgar

Di balik seremoni peletakan batu pertama, pekerjaan sesungguhnya justru baru dimulai.

Pembangunan Jembatan Gantung Inunang bersumber dari dukungan Dana Transfer ke Daerah (TKD) melalui Dinas Pekerjaan Umum dan Tata Ruang Kabupaten Pesisir Selatan. Nilai kontraknya mencapai Rp3.555.695.874. Pekerjaan dipercayakan kepada CV Taman Karya Manggala dengan masa pelaksanaan 140 hari kalender, terhitung sejak 14 Agustus 2026.

Angka tersebut membuat pengawasan menjadi bagian yang tak kalah penting dari pembangunan fisiknya. Sebab bagi masyarakat, ukuran keberhasilan proyek bukanlah seremoni groundbreaking, melainkan apakah jembatan selesai tepat waktu, memenuhi spesifikasi dan aman digunakan dalam jangka panjang.

Hendrajoni meminta kontraktor pelaksana bersama masyarakat ikut mengawal pekerjaan agar berjalan sesuai spesifikasi, mutu dan waktu yang telah ditentukan.

Pemkab Pesisir Selatan juga meminta Pejabat Pembuat Komitmen (PPK), kontraktor pelaksana dan konsultan pengawas bekerja profesional serta mengutamakan kualitas.

Infrastruktur Harus Berujung pada Ekonomi Warga

Pembangunan Inunang sekaligus memperlihatkan betapa kerusakan sebuah jembatan dapat menjalar menjadi persoalan ekonomi. Ketika akses terputus, jarak bertambah, mobilitas melambat dan distribusi hasil pertanian ikut menanggung konsekuensinya.

Karena itu, jembatan senilai Rp3,55 miliar tersebut memikul ekspektasi yang besar.

Peletakan batu pertama boleh menjadi penanda bahwa penantian warga mulai terjawab. Namun pertaruhan pemerintah berikutnya jauh lebih menentukan: memastikan setiap rupiah anggaran berubah menjadi konstruksi yang kokoh dan manfaat yang benar-benar dirasakan masyarakat.

Salah seorang Tokoh Muda Kecamatan Batang Kapas, Rahmad Fauzi, S. Ak, ME dalam perbincangan dengan Media di Painan, menyampaikan ucapan terima kasih kepada Pemerintah kabupaten Pesisir selatan, dalam hal ini khusus kepada Bupati Hendrajoni, atas dimulai pembangunan sarana perhubungan masyarakat didaerah tersebut.

Bagi warga Inunang, mereka tidak sekadar menunggu sebuah jembatan berdiri. Mereka menunggu akses kehidupan mereka tersambung kembali.

Dj/ RF biro Pesisir Selatan

Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

    x
    x