Era Sukma Munaf saat menjalankan tugas sebagai Kepala Pelaksana BPBD Provinsi Sumatera BaratSUMATERA BARAT — Di ruang kebencanaan, waktu kerap dihitung bukan lagi dalam hitungan hari, melainkan menit. Keputusan yang terlambat dapat memperpanjang penderitaan, sementara koordinasi yang tersendat bisa membuat bantuan gagal mencapai mereka yang paling membutuhkan. Di ruang kerja semacam itulah Dr. Ir. Era Sukma Munaf, S.T., M.M., M.T., Dt. Mangkudum kini menjalankan salah satu fase penting perjalanan pengabdiannya.
Sebagai Kepala Pelaksana Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Provinsi Sumatera Barat, Era berada pada wilayah kerja yang menuntut dua kemampuan sekaligus: ketegasan mengambil keputusan dan kepekaan membaca manusia.
Bagi pria yang akrab disapa Era Sukma itu, memimpin tampaknya bukan semata perkara memberi instruksi. Ada kepercayaan yang mesti dirawat, ada orang-orang yang harus didengar, dan dalam situasi bencana, ada warga yang menunggu negara hadir ketika kehidupan mereka sedang berada pada titik paling rapuh.

Jejak itulah yang membuat perjalanan Era menarik. Kariernya bergerak dari pembangunan infrastruktur, pemerintahan daerah, hingga akhirnya bersentuhan langsung dengan urusan keselamatan manusia.
Jauh sebelum berkutat dengan mitigasi, logistik dan koordinasi penanganan bencana, Era Sukma dikenal melalui pengabdiannya di lingkungan Pemerintah Provinsi Sumatera Barat.
Ia pernah memimpin Dinas Bina Marga, Cipta Karya dan Tata Ruang (BMCKTR) Sumatera Barat. Dunia yang dihadapinya ketika itu lekat dengan jalan, jembatan, tata ruang dan berbagai infrastruktur yang menentukan konektivitas masyarakat.
Namun, di balik pekerjaan teknis tersebut, tumbuh corak kepemimpinan yang kelak menjadi modal penting ketika ia memasuki dunia kebencanaan: disiplin, konsistensi, komunikasi dan kemampuan membangun kepercayaan.
Orang-orang yang mengenalnya menggambarkan Era sebagai pejabat yang relatif cair dalam berkomunikasi. Jabatan tidak serta-merta menjadi tembok yang membatasi percakapan. Ia disebut mampu berdialog dengan beragam kalangan tanpa kehilangan profesionalitasnya sebagai aparatur pemerintah.
Bencana tak mengenal struktur birokrasi yang panjang. Ketika keadaan darurat datang, pemimpin dituntut mampu menghubungkan banyak simpul sekaligus—pemerintah, petugas lapangan, relawan hingga masyarakat terdampak.
Di situlah pengalaman panjang dalam birokrasi bertemu dengan ujian yang lebih manusiawi.
Salah satu persinggahan penting dalam perjalanan Era terjadi pada 2024 ketika ia dipercaya menjalankan tugas sebagai Penjabat Sementara (Pjs) Bupati Pesisir Selatan.
Masa pengabdiannya memang singkat. Namun kepemimpinan tidak selalu diukur dari panjangnya waktu seseorang menduduki kursi.
Selama berada di Pesisir Selatan, Era berhadapan langsung dengan dinamika pemerintahan kabupaten dan masyarakat. Pendekatan kolaboratif menjadi salah satu warna kepemimpinannya.
Ia mendorong komunikasi lintas jajaran pemerintahan, bersentuhan dengan aktivitas masyarakat dan anak muda, termasuk olahraga, serta memberi perhatian terhadap potensi pariwisata daerah.
Pengalaman itu memperluas perspektifnya. Infrastruktur ternyata bukan hanya bentangan aspal. Pemerintahan bukan pula sekadar tumpukan dokumen. Di ujung seluruh kebijakan terdapat manusia yang akan menerima dampaknya.
Prinsip tersebut sejalan dengan karakter yang dilekatkan kepadanya: lebih memilih membicarakan pekerjaan, solusi dan sesuatu yang memberi manfaat ketimbang memperbesar kekurangan orang lain.
Ketika kemudian dipercaya menakhodai BPBD Sumatera Barat, tantangannya berubah drastis.
Sumatera Barat hidup berdampingan dengan beragam ancaman bencana. Dalam kondisi semacam itu, kepala BPBD bukan jabatan yang hanya bekerja ketika sirene berbunyi.
Mitigasi harus dibangun sebelum bencana datang. Koordinasi harus hidup ketika keadaan darurat terjadi. Pemulihan harus tetap berjalan setelah sorotan publik mulai menghilang.
Era membawa kombinasi pengalaman teknis dan pendekatan interpersonal ke dalam medan tersebut.
Sumber yang mengenalnya menggambarkan ia sebagai figur yang mampu menjadi tempat berdiskusi bagi banyak kalangan. Kemampuan mendengar tanpa buru-buru menghakimi disebut menjadi salah satu karakter yang membuat komunikasi dengannya relatif terbuka.
Di tengah tekanan, seorang pemimpin harus menerima laporan yang berbeda, memilah informasi, menyatukan kepentingan dan kemudian mengambil keputusan. Ketegasan diperlukan, tetapi empati tak boleh tertinggal.
Dimensi kemanusiaan itu pula yang tercermin ketika bantuan untuk masyarakat terdampak bencana dikemas melalui sesuatu yang sangat dekat dengan identitas Sumatera Barat: rendang.
Lebih dari sekadar makanan yang memiliki daya simpan relatif panjang, rendang membawa pesan yang jauh lebih simbolik. Ia menjadi cara Ranah Minang mengirimkan rasa persaudaraan kepada masyarakat yang tengah menghadapi masa sulit.
Gerakan bantuan tersebut memperlihatkan sisi lain penanggulangan bencana. Respons kemanusiaan tidak selalu harus berhenti pada angka logistik. Di balik setiap kilogram bantuan terdapat pesan bahwa masyarakat terdampak tidak menghadapi musibah sendirian.
Di titik itu, filosofi kepemimpinan Era menemukan bentuk yang sederhana: pemerintah harus hadir bukan hanya melalui struktur, tetapi juga melalui rasa.
Jabatan Bisa Berganti, Kepercayaan Tidak Mudah Dibangun
Perjalanan Era Sukma Munaf tentu belum selesai.
Rekam jejak panjang di birokrasi, pengalaman menangani pembangunan infrastruktur, persinggahannya memimpin Pesisir Selatan hingga tanggung jawabnya di BPBD Sumatera Barat mempertemukannya dengan beragam wajah pelayanan publik.
Namun ada satu benang merah yang tampak menghubungkan perjalanan tersebut: kepercayaan.
Kepercayaan tidak lahir dari gelar akademik yang panjang ataupun tingginya jabatan. Ia dibangun perlahan melalui konsistensi antara perkataan dan tindakan, kemampuan menjaga komunikasi, serta keberanian tetap tenang ketika keadaan sedang tidak baik-baik saja.
Karakter itulah yang disebut melekat pada Era. Kepemimpinan baginya tidak harus selalu hadir melalui suara keras. Ia dapat tumbuh dari kedisiplinan, ketenangan, kemampuan mendengar dan cara memperlakukan manusia dengan hormat.
Dan mungkin justru di dunia kebencanaan filosofi itu memperoleh makna paling nyata.
Sebab ketika rumah runtuh, jalan terputus atau kehidupan berubah hanya dalam hitungan detik, masyarakat tidak sedang menunggu pidato panjang.
Mereka menunggu seseorang datang.
Membawa bantuan, mengambil keputusan, menggerakkan orang-orang—dan yang paling penting, memastikan bahwa di tengah bencana, mereka tidak ditinggalkan sendirian.
Bagi Era Sukma Munaf, barangkali di sanalah ukuran pengabdian menemukan bentuknya yang paling sederhana: jabatan suatu hari akan selesai, tetapi rasa aman dan kepercayaan yang ditinggalkan kepada masyarakat dapat hidup jauh lebih lama.
Dj/ RF biro Pesisir Selatan




Tidak ada komentar