Ilustrasi anak yatim memandang sedih, ayah mengejar waktuPadang, 17 Desember 2025— Sebuah kebijakan sekolah yang menghimbau ayah secara langsung untuk mengambil Rapor anak ke sekolah menuai kritik tajam dari berbagai pihak. Kebijakan ini dinilai tidak sensitif terhadap kondisi sosial-ekonomi mayoritas masyarakat, terutama bagi keluarga miskin dan anak-anak yang telah kehilangan sosok ayah.
Kritik ini berakar pada dua poin utama yang dianggap sangat merugikan dan diskriminatif:
Kebijakan ini secara langsung menimbulkan kesedihan mendalam pada anak-anak yatim dan mereka yang diasuh oleh ibu tunggal atau wali.
“pengambilan Rapor seharusnya menjadi momen kebahagiaan dan kebanggaan bersama. Namun, dengan mewajibkan kehadiran ayah, kita secara tidak langsung memaksa anak-anak yang tak memiliki sosok ayah untuk merasakan kekosongan dan kesedihan di hari yang seharusnya istimewa,” ujar Amelia, pengamat isu sosial.
Momen ini yang dipenuhi dengan kehadiran ayah orang lain dapat memperburuk perasaan terpinggirkan dan ‘berbeda’ bagi anak-anak yang sudah menanggung beban psikologis kehilangan ayah.
Kebijakan ini juga memberikan dilema besar bagi keluarga miskin dan ayah yang berprofesi sebagai pekerja harian lepas (seperti buruh, tukang ojek, atau pedagang kecil) yang hidup dari upah harian.
Mengambil Rapor di sekolah berarti ayah harus meninggalkan pekerjaan mereka selama berjam-jam. Bagi mereka, satu hari tidak bekerja berarti satu hari tidak makan.
“Kami mengapresiasi upaya sekolah untuk melibatkan ayah dalam pendidikan anak. Namun, kebijakan ini tidak realistis. Apakah sekolah mempertimbangkan bahwa bagi sebagian keluarga, menjemput Rapor berarti menahan lapar seharian? Ini adalah pilihan sulit antara kebanggaan anak dan kebutuhan perut,” tambahnya.
Pihak yang melayangkan kritik mendesak pihak sekolah dan Dinas Pendidikan setempat untuk meninjau ulang kebijakan ini dan mencari solusi alternatif yang lebih inklusif dan sensitif secara sosial.
Solusi yang Diusulkan:
Penutup:
Pendidikan adalah hak semua anak. Kebijakan sekolah harus menjadi penunjang, bukan penghalang, yang justru menambah beban emosional dan ekonomi bagi keluarga yang paling rentan.
Jurnalistik: Doli syafrianto, S.E


Tidak ada komentar